Beban dan Tanggung Jawab Guru Lebih Berat Daripada Dokter lho,, | CariTau..!!

Diposting pada

Beban dan Tanggung Jawab Guru Lebih Berat Daripada Dokter

Guru adalah pendidik atau guru yang bertanggung jawab untuk mendidik bangsa. Sebagai pengganti orang tua, tugas guru tidaklah mudah. Tidak hanya mengajar atau memberi materi kepada siswa saja yang pintar, tapi juga harus mengubah kepribadian siswa miskin agar menjadi baik.

Guru bukan printer komersial yang dalam hal terjadi kesalahan atau kemungkinan akan didaur ulang. Guru adalah pencetak peserta didik untuk menjadi manusia sejati yang saleh, cerdas, terampil, bermoral, khas dan berdedikasi.

Kita tahu bersama bahwa mendidik atau membentuk karakter yang baik pada siswa tidaklah mudah. Selain kewajiban ini, guru juga harus dapat menyesuaikan diri dengan siswa yang berbeda dari latar belakang etnis, agama, ras, budaya dan bahasa yang berbeda. Dalam hal ini, guru tidak dapat membedakan antara siswa dengan siswa lainnya.

Ada pepatah: "Guru berdiri urin, buang air kecil". Artinya, jika guru tidak cocok, siswa akan bersikap sangat tidak pantas. Ketika seorang guru makan makanan ringan saat berada di jalan, mungkin ada kesamaan antara guru dan sapi saat makan sapi makan di sepanjang jalan. Bagi guru yang makan sementara jalan dianggap tidak sesuai, meski untuk profesi lain mungkin hal yang biasa.

Lalu mengapa tugas guru dikatakan lebih berat daripada pekerjaan dokter. Dokter terlihat lebih sulit bekerja karena harus mengelola dan menyembuhkan orang. Analog seperti ini, salah dokter dalam mendiagnosis dan memberi obat, yang menyebabkan pasien yang malang atau bahkan mati, dokter akan dihukum pada saat bersamaan. Tetapi jika seorang guru berbuat salah atau menyalahgunakan pengetahuan kepada murid, orang yang malang itu adalah bangsa, efeknya akan dirasakan dalam 20 tahun ke depan, dan gurunya akan menanggung dosa, bahkan sampai kematian dosa masih berjalan. Jika hanya 1 murid yang salah di sekolah, bagaimana jika yang salah dididik dalam satu kelas? Jadi bisa dibayangkan bagaimana generasi penerus bangsa ini akan hancur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *